Senin, 23 November 2009
Kata Mu : Indah pada Waktunya
Jumat, 09 Oktober 2009
Selasa, 29 September 2009
CABUT GELISAH INI, YA.... ALLAH
Selimut yang tak Menghangatkan Lagi
Rasa Itu Hadir Kembali
Jumat, 25 September 2009
GAIRAH CINTA
InDahnya CinTa
Dan pabila sayapnya merangkummu, pasrahlah serta menyerah,
walau pedang tersembunyi di sela sayap itu melukaimu.
Dan jika dia bicara kepadamu, percayalah,
walau ucapannya membuyarkan mimpimu,
bagai angin utara mengobrak-abrik pertamanan.
Sebab sebagaimanan cinta memahkotaimu, demikian pula, dia menyalibmu.
Demi pertumbuhanmu, begitu pula demi pemangkasanmu.
Sebagaimana dia membubung, mengecup puncak-puncak ketinggianmu,
membelai mesra ranting-ranting terlembut yang bergetar dalam cahaya matahari,
demikian pula dia menghujam ke dasar akarmu, menguncang-guncangnya dari ikatanmu dengan tanah.
Laksana butir-butir gandum kau diraihnya,
ditumbuknya kau sampai polos telanjang,
diketamnya kau, agar bebas dari kulitmu, digosoknya,
sehingga menjadi putih bersih,
diremas-remasnya manjadi bahan yang lemas dibentuk.
Dan akhirnya diantar kepada api suci,
laksana roti suci yang dipersembahkan pada pesta kudus Tuhan.
Demikianlah pekerti cinta atas diri manusia, supaya kau pahami rahasia hati, dan kesadaran itu
menjadikanmu segumpal hati kehidupan.
Nmaun jika dalam kecemasan, hanya kedirian cinta dan kesenangannya yang kau cari,
maka lebih baiklah bagimu menutupi tubuh.
Lalu menyingkir dari papan penempaan, memasuki dunia tanpa musim,
dimana dapat tertawa, namun tidak sepenuhnya.
Tempat kaupun dapat menangis namun tidak sehabis air mata.
Cinta tidak memberikan apa-apa, kecuali keseluruhan dirinya, utuh-penuh,
pun tidak mengambil apa-apa, kecuali dari dirinya sendiri.
Cinta tidak memiliki ataupun dimiliki.
Karena cinta telah cukup untuk dicinta.
Pabila kau mencintai, janganlah berkata,"Tuhan ada didalam hatiku".
Tetapi sebaiknya engkau merasa, "Aku berada di dalam Tuhan".
pun jangan mengira, bahwa kau dapat menentukan arah jalannya cinta karena cinta,
pabila kau telah dipilihnya, akan menentukan perjalanann hidupmu.
Cinta tiada berkeinginan selain mewujudkan maknanya.
Namun jika kau mencintai disertai berbagai keinginan,
ujudkanlah ia demikian : meluluhkan diri, mengalir bagaikan kali, yang menyanyikan lagu persembahan malam,
mengenali kepedihan kemesraan yang terlalu dalam,
merasakan luka akibat pengertianmu sendiri tentang cinta.
Dan meneteskan darah suka rela serta suka cita,
terjaga di fajar subuh dengan hati seringan awan.
Mensyukuri hari baru penuh sinar kecintaan.
Istirah di terik siang merenungkan puncak-puncak getaran cinta.
Kemudian terlena dengan doa bagi yang tercinta dalam sanubari,
dari sebuah nyanyian puji syukur tersungging di bibir senyum
(kahlil gibran)
Senin, 03 Agustus 2009
Akhir suatu Pergulatan
Pergulatan kali ini terasa berat dan melelahkan
Seolah berjalan tanpa arah dan tujuan
Tiap helaan nafas terasa sesak menghimpit
Menggapai tuk meraih tumpuan
Hanya dingin yang sunyi tersamar
Ingin ku lempar semua kepenatan ini
Dihamparan wajah terangnya rembulan
Ragaku menggeliat kaku tertimbun lembaran-lembaran bisu
Mana matamu? Mana rasamu? Mana pedulimu?
Berjuta tanya menyumbat tenggorokan
Kosong dan bisu adanya
Ketika kesadaran menyergapku
Kaki berontak mengajak berlari
Membawa dada penuh hasrat
Terseok tak menghilangkan niat
Harus selesai sampai disini
Pergulatan kali ini memang berat dan melelahkan
Tapi, tak cukup menghalangi harapanku
Memenangi impian masa lalu
Merangkai tiap jiwa dalam alunan nada
Puas memandang potret diri
Ternyata,….
Pergulatan kali ini tidak terlalu berat dan melelahkan
Kau dan Aku
Aku tahu akan dirimu
Setiap desah nafasmu
Setiap detak jantungmu
Setiap helaan kesahmu
Aku tahu akan lukamu
Yang menggigit nyeri
Melubangi setiap celah hatimu
Bahkan, mencabik segala keangkuhanmu
Aku tahu kemana kau bawa luka itu
Berlari membelah bukit
Berlayar menantang badai
Bertarung menghantam karang terjal
Kau ukir dihamparan pasir pantai
Namun, ombak selalu menentang
Menghancurkan yang tersisa
Terbuka kembali jahitan luka itu
Runtuh kembali bangunan penjagaan diri
Aku tahu akan dirimu
Sungguh !
Aku tahu dirimu !
Karena aku dan kau satu jiwa !
Februari yang Telah Berlalu lagi....
Kehampaan setia menemani
Bagai pengantin yang mengiringi mempelainya
Kadang,
Sepercik kerinduan menghalau
Mencari ruang dan rongga untuk bernafas
Namun….sekali lagi dia kandas`!
Tak berbekas, sia-sia
Tersapu hembusan keangkuhan
Untuk apa nyanyian cinta dikumandangkan
Jika tanpa syair, hanya denyut lirih
Februari yang akan berlalu lagi ….
Akankah biduk ini kan bertepi ?
Kemana akan ku bawa lelah ini ?
Andai ada pelabuhan yang dapat ku singgahi
Tanya tak terjawab !
Rasa itu Hadir Kembali
Kala diri lengah sekejap
Menyelinap mencengkram jiwa
Kidung kecintaan membahana
Aku kenal kenikmatan saat ini
Mimpi seolah tiada arti
Langkah yang telah terjejaki
Sukar untuk ditarik kembali
Ketika persimpangan menghadang
Mamaksa diri sejenak
Akan dibawa kemana rasa ini
Membuncah kepermukaan dengan menuai badai kecaman
Atau.......
Tersimpan rapat meraja ditiap relung hati
Kadang kesadaran hadir sesaat
Mengintip celah jiwa yang lelah
Akan abadikan rasa ini
Kenikmatan yang sukar dimiliki
Walau sekejap namun kuhayati kehadirannya
Biarlah ini tetap menjadi rahasia hati
Tanya Tuk Sahabat
Tanya tersedak menyesakkan dada
Antara penyesalan dan kemarahan
Berlomba merebut ruang yang tersisa
Lelah bergelut menguak kenyataan diri
Allah kuasa pencipta segalanya
Bantu hati ini mencari ketenangan yang kian tersamar
Hanya gelora amarah menguasai
Meraja tiap tanpak sisi wajahnya
Mengapa ?
Nurani berontak melucuti belenggu nista
Tatapan kian garang seiring gelembung ego
Untuk sekian kali, hati ini lelah
Tak sanggup memikul keinginan daging
Bantu aku Allah
Turunkan sayap-sayap perdamaian dalam diri ini
Basuh garangnya hati
Lapangkan relung-relung yang kian buram
Beri aku warna putih untuk hati ini
Warna merah untuk semangat melayani Mu
Tersungkur daku berurai air mata
Cabut gelisah ini ya Allah !
Hangatnya Selimut telah Terkuak
Dingin terasa menusuk tulang belulang
Terkuras sudah tenaga dan air mata
Mencari celah kehangatan yang kian jauh
Selimut bertanya ribuan kali
"mengapa? Mengapa aku dihempaskan? Ragamu menggigil tanpaku?"
Jiwa menjawab "aku lelah menahan bebanmu!"
Selimut menyerbu jutaan tanya kembali
Jiwa mengelak memuaskan napsu keingintahuan selimut
Kasur memandang pilu para sahabatnya
Berlalu sudah keintiman dahulu
Kala raga sejiwa dengan hangatnya selimut
Bergumul mesra menghalau dinginnya malam
Kini, ...
Jiwa berusaha mencampakkan kehangatan raga
Mendustai rasa nyaman yang kian meracuni
Ratapan selimut merajah tiap mili raga
Permohonan kasur mengiringi alunan kesendirian
Bangunlah jiwa, desah bantal gelisah
Rengkuh kembali mereka dalam dekapanmu
Jadikan itu semua untaian nafasmu
Guna membingkai kalbu yang nyaris tak berjiwa!
Awal May' 07
:-) toek selimut yang tidak menghangatkan lagi
Renungan tentang Hidup Lebih Berharga Satu pohon dapat membuat jutaan batang korek api, tapi satu batang korek api dapat membakar jutaa...
-
BAGI SAHABATKU YANG TERTINDAS Wahai engkau yang dilahirkan di atas ranjang kesengsaraan, diberi makan pada dada penurunan nilai, yang ...
-
Sayap- Sayap Patah Wahai langit .... Tanyakan pada-Nya Mengapa Dia menciptakan sekeping hati ini Begitu rapuh dan mudah terluka Saat d...
-
ANAK Dan seorang perempuan yang menggendong bayi dalam dakapan dadanya berkata, Bicaralah pada kami perihal Anak. Dan dia berkata: An...