Senin, 03 Agustus 2009

Hangatnya Selimut telah Terkuak

Dingin terasa menusuk tulang belulang

Terkuras sudah tenaga dan air mata

Mencari celah kehangatan yang kian jauh

Selimut bertanya ribuan kali

"mengapa? Mengapa aku dihempaskan? Ragamu menggigil tanpaku?"

Jiwa menjawab "aku lelah menahan bebanmu!"

Selimut menyerbu jutaan tanya kembali

Jiwa mengelak memuaskan napsu keingintahuan selimut

Kasur memandang pilu para sahabatnya

Berlalu sudah keintiman dahulu

Kala raga sejiwa dengan hangatnya selimut

Bergumul mesra menghalau dinginnya malam

Kini, ...

Jiwa berusaha mencampakkan kehangatan raga

Mendustai rasa nyaman yang kian meracuni

Ratapan selimut merajah tiap mili raga

Permohonan kasur mengiringi alunan kesendirian

Bangunlah jiwa, desah bantal gelisah

Rengkuh kembali mereka dalam dekapanmu

Jadikan itu semua untaian nafasmu

Guna membingkai kalbu yang nyaris tak berjiwa!

Awal May' 07

:-) toek selimut yang tidak menghangatkan lagi

Tidak ada komentar:

Renungan tentang Hidup Lebih Berharga  Satu pohon dapat membuat jutaan batang korek api,  tapi satu batang korek api dapat membakar jutaa...