Jumat, 25 September 2009

GAIRAH CINTA


Musim Semi

Datanglah duhai kekasihku, mari terbang menapak pucuk-pucuk bukit, karena salju telah mencair, dan sang hidup terbangun dari tidurnya dan berkelana diantara bukit dan lembah. Mengikuti jejak-jejak musim semi yang tak berujung, dan menghitung pucuk-pucuk bukit untuk menulis inspirasi diatas dinginnya lembah hijau.
Fajar musim semi membentangkan jubah musim dingin dan meletakannya diatas pohon persik dan sitrus bak pengantin di pesta malam qadar.
Ranting bulir-bulir anggur saling berpelukan bagaikan sepasang kekasih dan menari-nari diatas bebatuan.
menyanyikan lagu keriangan ; dan tiba-tiba di pusat semesta bersemilah kuncup-kuncup bunga bagaikan buih-buih debur ombak samudra.
Datanglah duhai kekasihku ; mari kita reguk air mata musim dingin dari tangkup-tangkup bunga lili, dan menyejuki jiwa kita dengan guyuran kicau burung-burung  dan sejuk segar desah nafas angin. Mari kita duduk di bebatuan itu, tempat bunga-bunga violet malu-malu bersembunyi, dan mari kita kejar ciuman manis mereka.




Musim Panas

Mari kita berkelana dipadang-padang, duhai kekasihku, karena musim panen telah tiba dan sang surya telah memasakkan biji-biji gandum.
Mari kita olah buah-buah bumi, layaknya jiwa yang memelihara kuncup-kuncup kebahagiaan dari benih-benih cinta yang tertancap di dada kita. Mari kita penuhi lumbung-lumbung dengan hasil-hasil alam layaknya hidup memenuhi hati kita tiada terhingga dengan anugrah yang tak terbatas.
Mari kita tebarkan bunga-bunga untuk ranjang kita, dan langit sebagai selimut, dan meletakkan kepala kita bersama diatas jerami-jerami lembut.
Mari kita beristirahat setelah bekerja seharian dan mendengar gemericik anak-anak sungai berkejaran.



Musim Gugur

Mari kita petik bulir-bulir anggur dan memerasnya, dan menampung perasan itu di dalam guci-guci kuno layaknya jiwa menjaga pengetahuan zaman dalam laci-laci keabadian.
Mari kita kembali bekerja, karena angin telah merontokkan daun-daun dan menerbangkan bunga-bunga layu yang melenguh kepanasan.
Duhai kekasih abadiku, pulanglah karena burung-burung telah melintas padang mencari kehangatan, meninggalkan dinginya lembah sunyi yang membeku. Melati dan pacar hijau tidak langi menangis.
Mari kita menarik diri, karena anak-anak sugai telah lelah berkejaran; dan gelombang-gelombnag musim semi telah mengering karena tangis berlebihan; dan bukit-bukit tua yang renta telah menarik jubah-jubah pelanginya.
Datanglah duhai kekasihku, sang alam telah lelah dan mengucap slamat tinggal dalam melodi sunyi dan membisu.



Musim Dingin

Mendekatlah padaku, duhai kekasih hidupku. Jangan biarkan dingin memisahkan kita. Rangkuhlah hatiku karena hanya api yang mampu menghangatkan di musim dingin. Curahkanlah hatimu padaku, karena itu lebih menyejukan daripada hembusan angin kencang. Tutuplah pintu-pintu dan kunci jendela-jendela karena kemarahan surga menekan jiwa ini dengan berat, dan wajah padang yang tertimbun salju membuat jiwaku menangis.
Nyalakan lampu dengan minyak  dan jangan biarkan mati,dan letakkan didekatmu, agar air mataku dapat membaca kehidupan di wajahmu.
Bawakan anggur musim gugur. Mari kita teguk dan bersenandung gembira dengan bayang-bayang keindahan musim semi, dan penjagaan kasih musim panas, dan ganjaran musim gugur pada saat musim panen.
Mendekatlah padaku, duhai kekasih hatiku ; api telah mendingin dan beterbangan di bawah debu-debu.
Rangkulah daku, karena aku takut kesepian ; lampu begitu samar, dan bulir-bulir aggur yang kita peras telah membutakan mata kita. Mari kita saling berpandangan sebelum mata kita terlelap. Belailah aku dengan ranjang malam dan satukan jiwa kita.
Ciumlah daku, duhai kekasihku, karena musim dingin telah tercuri semuanya kecuali bibir kita yang berkelamut.
Engkau ada di dekatku, duhai keabadianku. 
Betapa dalam dan luas ranjang malam
Dan betapa pagi fajar itu.

(Kahlil Gibran)

Tidak ada komentar:

Renungan tentang Hidup Lebih Berharga  Satu pohon dapat membuat jutaan batang korek api,  tapi satu batang korek api dapat membakar jutaa...