Selasa, 29 September 2009

CABUT GELISAH INI, YA.... ALLAH

Tanya tersedak menyesakkan dada
Antara penyesalan dan kemarahan
Berlomba merebut ruang yang tersisa
Lelah bergelut menguak kenyataan diri
Allah kuasa pencipta segalanya
Bantu hati ini mencari ketenangan yang kian tersamar
Hanya gelora amarah menguasai
Meraja tiap tanpak sisi wajahnya
Mengapa ?
Nurani berontak melucuti belenggu nista
Tatapan kian garang seiring gelembung ego
Untuk sekian kali, hati ini lelah
Tak sanggup memikul keinginan daging
Bantu aku Allah
Turunkan sayap-sayap perdamaian dalam diri ini
Basuh garangnya hati
Lapangkan relung-relung yang kian buram
Beri aku warna putih untuk hati ini
Warna merah untuk semangat melayani Mu
Tersungkur daku berurai air mata
Cabut gelisah ini ya Allah !

Selimut yang tak Menghangatkan Lagi

Hangatnya selimut telah terkuak
Dingin terasa menusuk tulang belulang
Terkuras sudah tenaga dan air mata
Mencari celah kehangatan yang kian jauh
Selimut bertanya ribuan kali
"mengapa? Mengapa aku dihempaskan? Ragamu menggigil tanpaku?"
Jiwa menjawab "aku lelah menahan bebanmu!"
Selimut menyerbu jutaan tanya kembali
Jiwa mengelak memuaskan napsu keingintahuan selimut
Kasur memandang pilu para sahabatnya
Berlalu sudah keintiman dahulu
Kala raga sejiwa dengan hangatnya selimut
Bergumul mesra menghalau dinginnya malam
Kini, ...
Jiwa berusaha mencampakkan kehangatan raga
Mendustai rasa nyaman yang kian meracuni
Ratapan selimut merajah tiap mili raga
Permohonan kasur mengiringi alunan kesendirian
Bangunlah jiwa, desah bantal gelisah
Rengkuh kembali mereka dalam dekapanmu
Jadikan itu semua untaian nafasmu
Guna membingkai kalbu yang nyaris tak berjiwa!

Rasa Itu Hadir Kembali

Kala diri lengah sekejap
Menyelinap mencengkram jiwa
Kidung kecintaan membahana
Aku kenal kenikmatan saat ini
Mimpi seolah tiada arti
Langkah yang telah terjejaki
Sukar untuk ditarik kembali
Ketika persimpangan menghadang
Mamaksa diri sejenak
Akan dibawa kemana rasa ini
Membuncah kepermukaan dengan menuai badai kecaman
Atau.......
Tersimpan rapat meraja ditiap relung hati
Kadang kesadaran hadir sesaat
Mengintip celah jiwa yang lelah
Akan abadikan rasa ini
Kenikmatan yang sukar dimiliki
Walau sekejap namun kuhayati kehadirannya
Biarlah ini tetap menjadi rahasia hati

Jumat, 25 September 2009

GAIRAH CINTA


Musim Semi

Datanglah duhai kekasihku, mari terbang menapak pucuk-pucuk bukit, karena salju telah mencair, dan sang hidup terbangun dari tidurnya dan berkelana diantara bukit dan lembah. Mengikuti jejak-jejak musim semi yang tak berujung, dan menghitung pucuk-pucuk bukit untuk menulis inspirasi diatas dinginnya lembah hijau.
Fajar musim semi membentangkan jubah musim dingin dan meletakannya diatas pohon persik dan sitrus bak pengantin di pesta malam qadar.
Ranting bulir-bulir anggur saling berpelukan bagaikan sepasang kekasih dan menari-nari diatas bebatuan.
menyanyikan lagu keriangan ; dan tiba-tiba di pusat semesta bersemilah kuncup-kuncup bunga bagaikan buih-buih debur ombak samudra.
Datanglah duhai kekasihku ; mari kita reguk air mata musim dingin dari tangkup-tangkup bunga lili, dan menyejuki jiwa kita dengan guyuran kicau burung-burung  dan sejuk segar desah nafas angin. Mari kita duduk di bebatuan itu, tempat bunga-bunga violet malu-malu bersembunyi, dan mari kita kejar ciuman manis mereka.




Musim Panas

Mari kita berkelana dipadang-padang, duhai kekasihku, karena musim panen telah tiba dan sang surya telah memasakkan biji-biji gandum.
Mari kita olah buah-buah bumi, layaknya jiwa yang memelihara kuncup-kuncup kebahagiaan dari benih-benih cinta yang tertancap di dada kita. Mari kita penuhi lumbung-lumbung dengan hasil-hasil alam layaknya hidup memenuhi hati kita tiada terhingga dengan anugrah yang tak terbatas.
Mari kita tebarkan bunga-bunga untuk ranjang kita, dan langit sebagai selimut, dan meletakkan kepala kita bersama diatas jerami-jerami lembut.
Mari kita beristirahat setelah bekerja seharian dan mendengar gemericik anak-anak sungai berkejaran.



Musim Gugur

Mari kita petik bulir-bulir anggur dan memerasnya, dan menampung perasan itu di dalam guci-guci kuno layaknya jiwa menjaga pengetahuan zaman dalam laci-laci keabadian.
Mari kita kembali bekerja, karena angin telah merontokkan daun-daun dan menerbangkan bunga-bunga layu yang melenguh kepanasan.
Duhai kekasih abadiku, pulanglah karena burung-burung telah melintas padang mencari kehangatan, meninggalkan dinginya lembah sunyi yang membeku. Melati dan pacar hijau tidak langi menangis.
Mari kita menarik diri, karena anak-anak sugai telah lelah berkejaran; dan gelombang-gelombnag musim semi telah mengering karena tangis berlebihan; dan bukit-bukit tua yang renta telah menarik jubah-jubah pelanginya.
Datanglah duhai kekasihku, sang alam telah lelah dan mengucap slamat tinggal dalam melodi sunyi dan membisu.



Musim Dingin

Mendekatlah padaku, duhai kekasih hidupku. Jangan biarkan dingin memisahkan kita. Rangkuhlah hatiku karena hanya api yang mampu menghangatkan di musim dingin. Curahkanlah hatimu padaku, karena itu lebih menyejukan daripada hembusan angin kencang. Tutuplah pintu-pintu dan kunci jendela-jendela karena kemarahan surga menekan jiwa ini dengan berat, dan wajah padang yang tertimbun salju membuat jiwaku menangis.
Nyalakan lampu dengan minyak  dan jangan biarkan mati,dan letakkan didekatmu, agar air mataku dapat membaca kehidupan di wajahmu.
Bawakan anggur musim gugur. Mari kita teguk dan bersenandung gembira dengan bayang-bayang keindahan musim semi, dan penjagaan kasih musim panas, dan ganjaran musim gugur pada saat musim panen.
Mendekatlah padaku, duhai kekasih hatiku ; api telah mendingin dan beterbangan di bawah debu-debu.
Rangkulah daku, karena aku takut kesepian ; lampu begitu samar, dan bulir-bulir aggur yang kita peras telah membutakan mata kita. Mari kita saling berpandangan sebelum mata kita terlelap. Belailah aku dengan ranjang malam dan satukan jiwa kita.
Ciumlah daku, duhai kekasihku, karena musim dingin telah tercuri semuanya kecuali bibir kita yang berkelamut.
Engkau ada di dekatku, duhai keabadianku. 
Betapa dalam dan luas ranjang malam
Dan betapa pagi fajar itu.

(Kahlil Gibran)

InDahnya CinTa

Pabila cinta memanggilmu, ikutilah dia, walau jalannya terjal berliku-liku.
Dan pabila sayapnya merangkummu, pasrahlah serta menyerah,
walau pedang tersembunyi di sela sayap itu melukaimu.
Dan jika dia bicara kepadamu, percayalah,
walau ucapannya membuyarkan mimpimu,
bagai angin utara mengobrak-abrik pertamanan.

Sebab sebagaimanan cinta memahkotaimu, demikian pula, dia menyalibmu.
Demi pertumbuhanmu, begitu pula demi pemangkasanmu.
Sebagaimana dia membubung, mengecup puncak-puncak ketinggianmu,
membelai mesra ranting-ranting terlembut yang bergetar dalam cahaya matahari,
demikian pula dia menghujam ke dasar akarmu, menguncang-guncangnya dari ikatanmu dengan tanah.

Laksana butir-butir gandum kau diraihnya,
ditumbuknya kau sampai polos telanjang,
diketamnya kau, agar bebas dari kulitmu, digosoknya,
sehingga menjadi putih bersih,
diremas-remasnya manjadi bahan yang lemas dibentuk.
Dan akhirnya diantar kepada api suci,
laksana roti suci yang dipersembahkan pada pesta kudus Tuhan.
Demikianlah pekerti cinta atas diri manusia, supaya kau pahami rahasia hati, dan kesadaran itu
menjadikanmu segumpal hati kehidupan.
Nmaun jika dalam kecemasan, hanya kedirian cinta dan kesenangannya yang kau cari,
maka lebih baiklah bagimu menutupi tubuh.
Lalu menyingkir dari papan penempaan, memasuki dunia tanpa musim,
dimana dapat tertawa, namun tidak sepenuhnya.
Tempat kaupun dapat menangis namun tidak sehabis air mata.
Cinta tidak memberikan apa-apa, kecuali keseluruhan dirinya, utuh-penuh,
pun tidak mengambil apa-apa, kecuali dari dirinya sendiri.
Cinta tidak memiliki ataupun dimiliki.
Karena cinta telah cukup untuk dicinta.
Pabila kau mencintai, janganlah berkata,"Tuhan ada didalam hatiku".
Tetapi sebaiknya engkau merasa, "Aku berada di dalam Tuhan".
pun jangan mengira, bahwa kau dapat menentukan arah jalannya cinta karena cinta,
pabila kau telah dipilihnya, akan menentukan perjalanann hidupmu.
Cinta tiada berkeinginan selain mewujudkan maknanya.
Namun jika kau mencintai disertai berbagai keinginan,
ujudkanlah ia demikian : meluluhkan diri, mengalir bagaikan kali, yang menyanyikan lagu persembahan malam,
mengenali kepedihan kemesraan yang terlalu dalam,
merasakan luka akibat pengertianmu sendiri tentang cinta.
Dan meneteskan darah suka rela serta suka cita,
terjaga di fajar subuh dengan hati seringan awan.
Mensyukuri hari baru penuh sinar kecintaan.
Istirah di terik siang merenungkan puncak-puncak getaran cinta.
Kemudian terlena dengan doa bagi yang tercinta dalam sanubari,
dari sebuah nyanyian puji syukur tersungging di bibir senyum


(kahlil gibran)

Renungan tentang Hidup Lebih Berharga  Satu pohon dapat membuat jutaan batang korek api,  tapi satu batang korek api dapat membakar jutaa...