Jumat, 25 September 2009

InDahnya CinTa

Pabila cinta memanggilmu, ikutilah dia, walau jalannya terjal berliku-liku.
Dan pabila sayapnya merangkummu, pasrahlah serta menyerah,
walau pedang tersembunyi di sela sayap itu melukaimu.
Dan jika dia bicara kepadamu, percayalah,
walau ucapannya membuyarkan mimpimu,
bagai angin utara mengobrak-abrik pertamanan.

Sebab sebagaimanan cinta memahkotaimu, demikian pula, dia menyalibmu.
Demi pertumbuhanmu, begitu pula demi pemangkasanmu.
Sebagaimana dia membubung, mengecup puncak-puncak ketinggianmu,
membelai mesra ranting-ranting terlembut yang bergetar dalam cahaya matahari,
demikian pula dia menghujam ke dasar akarmu, menguncang-guncangnya dari ikatanmu dengan tanah.

Laksana butir-butir gandum kau diraihnya,
ditumbuknya kau sampai polos telanjang,
diketamnya kau, agar bebas dari kulitmu, digosoknya,
sehingga menjadi putih bersih,
diremas-remasnya manjadi bahan yang lemas dibentuk.
Dan akhirnya diantar kepada api suci,
laksana roti suci yang dipersembahkan pada pesta kudus Tuhan.
Demikianlah pekerti cinta atas diri manusia, supaya kau pahami rahasia hati, dan kesadaran itu
menjadikanmu segumpal hati kehidupan.
Nmaun jika dalam kecemasan, hanya kedirian cinta dan kesenangannya yang kau cari,
maka lebih baiklah bagimu menutupi tubuh.
Lalu menyingkir dari papan penempaan, memasuki dunia tanpa musim,
dimana dapat tertawa, namun tidak sepenuhnya.
Tempat kaupun dapat menangis namun tidak sehabis air mata.
Cinta tidak memberikan apa-apa, kecuali keseluruhan dirinya, utuh-penuh,
pun tidak mengambil apa-apa, kecuali dari dirinya sendiri.
Cinta tidak memiliki ataupun dimiliki.
Karena cinta telah cukup untuk dicinta.
Pabila kau mencintai, janganlah berkata,"Tuhan ada didalam hatiku".
Tetapi sebaiknya engkau merasa, "Aku berada di dalam Tuhan".
pun jangan mengira, bahwa kau dapat menentukan arah jalannya cinta karena cinta,
pabila kau telah dipilihnya, akan menentukan perjalanann hidupmu.
Cinta tiada berkeinginan selain mewujudkan maknanya.
Namun jika kau mencintai disertai berbagai keinginan,
ujudkanlah ia demikian : meluluhkan diri, mengalir bagaikan kali, yang menyanyikan lagu persembahan malam,
mengenali kepedihan kemesraan yang terlalu dalam,
merasakan luka akibat pengertianmu sendiri tentang cinta.
Dan meneteskan darah suka rela serta suka cita,
terjaga di fajar subuh dengan hati seringan awan.
Mensyukuri hari baru penuh sinar kecintaan.
Istirah di terik siang merenungkan puncak-puncak getaran cinta.
Kemudian terlena dengan doa bagi yang tercinta dalam sanubari,
dari sebuah nyanyian puji syukur tersungging di bibir senyum


(kahlil gibran)

Tidak ada komentar:

Renungan tentang Hidup Lebih Berharga  Satu pohon dapat membuat jutaan batang korek api,  tapi satu batang korek api dapat membakar jutaa...