Senin, 03 Agustus 2009

Akhir suatu Pergulatan

Pergulatan kali ini terasa berat dan melelahkan

Seolah berjalan tanpa arah dan tujuan

Tiap helaan nafas terasa sesak menghimpit

Menggapai tuk meraih tumpuan

Hanya dingin yang sunyi tersamar

Ingin ku lempar semua kepenatan ini

Dihamparan wajah terangnya rembulan

Ragaku menggeliat kaku tertimbun lembaran-lembaran bisu

Mana matamu? Mana rasamu? Mana pedulimu?

Berjuta tanya menyumbat tenggorokan

Kosong dan bisu adanya

Ketika kesadaran menyergapku

Kaki berontak mengajak berlari

Membawa dada penuh hasrat

Terseok tak menghilangkan niat

Harus selesai sampai disini

Pergulatan kali ini memang berat dan melelahkan

Tapi, tak cukup menghalangi harapanku

Memenangi impian masa lalu

Merangkai tiap jiwa dalam alunan nada

Puas memandang potret diri

Ternyata,….

Pergulatan kali ini tidak terlalu berat dan melelahkan

Kau dan Aku

Aku tahu akan dirimu

Setiap desah nafasmu

Setiap detak jantungmu

Setiap helaan kesahmu

Aku tahu akan lukamu

Yang menggigit nyeri

Melubangi setiap celah hatimu

Bahkan, mencabik segala keangkuhanmu

Aku tahu kemana kau bawa luka itu

Berlari membelah bukit

Berlayar menantang badai

Bertarung menghantam karang terjal

Kau ukir dihamparan pasir pantai

Namun, ombak selalu menentang

Menghancurkan yang tersisa

Terbuka kembali jahitan luka itu

Runtuh kembali bangunan penjagaan diri

Aku tahu akan dirimu

Sungguh !

Aku tahu dirimu !

Karena aku dan kau satu jiwa !

Februari yang Telah Berlalu lagi....

Kehampaan setia menemani

Bagai pengantin yang mengiringi mempelainya

Kadang,

Sepercik kerinduan menghalau

Mencari ruang dan rongga untuk bernafas

Namun….sekali lagi dia kandas`!

Tak berbekas, sia-sia

Tersapu hembusan keangkuhan

Untuk apa nyanyian cinta dikumandangkan

Jika tanpa syair, hanya denyut lirih

Februari yang akan berlalu lagi ….

Akankah biduk ini kan bertepi ?

Kemana akan ku bawa lelah ini ?

Andai ada pelabuhan yang dapat ku singgahi

Tanya tak terjawab !

Rasa itu Hadir Kembali

Kala diri lengah sekejap

Menyelinap mencengkram jiwa

Kidung kecintaan membahana

Aku kenal kenikmatan saat ini

Mimpi seolah tiada arti

Langkah yang telah terjejaki

Sukar untuk ditarik kembali

Ketika persimpangan menghadang

Mamaksa diri sejenak

Akan dibawa kemana rasa ini

Membuncah kepermukaan dengan menuai badai kecaman

Atau.......

Tersimpan rapat meraja ditiap relung hati

Kadang kesadaran hadir sesaat

Mengintip celah jiwa yang lelah

Akan abadikan rasa ini

Kenikmatan yang sukar dimiliki

Walau sekejap namun kuhayati kehadirannya

Biarlah ini tetap menjadi rahasia hati

Tanya Tuk Sahabat

Tanya tersedak menyesakkan dada

Antara penyesalan dan kemarahan

Berlomba merebut ruang yang tersisa

Lelah bergelut menguak kenyataan diri

Allah kuasa pencipta segalanya

Bantu hati ini mencari ketenangan yang kian tersamar

Hanya gelora amarah menguasai

Meraja tiap tanpak sisi wajahnya

Mengapa ?

Nurani berontak melucuti belenggu nista

Tatapan kian garang seiring gelembung ego

Untuk sekian kali, hati ini lelah

Tak sanggup memikul keinginan daging

Bantu aku Allah

Turunkan sayap-sayap perdamaian dalam diri ini

Basuh garangnya hati

Lapangkan relung-relung yang kian buram

Beri aku warna putih untuk hati ini

Warna merah untuk semangat melayani Mu

Tersungkur daku berurai air mata

Cabut gelisah ini ya Allah !

Hangatnya Selimut telah Terkuak

Dingin terasa menusuk tulang belulang

Terkuras sudah tenaga dan air mata

Mencari celah kehangatan yang kian jauh

Selimut bertanya ribuan kali

"mengapa? Mengapa aku dihempaskan? Ragamu menggigil tanpaku?"

Jiwa menjawab "aku lelah menahan bebanmu!"

Selimut menyerbu jutaan tanya kembali

Jiwa mengelak memuaskan napsu keingintahuan selimut

Kasur memandang pilu para sahabatnya

Berlalu sudah keintiman dahulu

Kala raga sejiwa dengan hangatnya selimut

Bergumul mesra menghalau dinginnya malam

Kini, ...

Jiwa berusaha mencampakkan kehangatan raga

Mendustai rasa nyaman yang kian meracuni

Ratapan selimut merajah tiap mili raga

Permohonan kasur mengiringi alunan kesendirian

Bangunlah jiwa, desah bantal gelisah

Rengkuh kembali mereka dalam dekapanmu

Jadikan itu semua untaian nafasmu

Guna membingkai kalbu yang nyaris tak berjiwa!

Awal May' 07

:-) toek selimut yang tidak menghangatkan lagi

Renungan tentang Hidup Lebih Berharga  Satu pohon dapat membuat jutaan batang korek api,  tapi satu batang korek api dapat membakar jutaa...